Minggu, 12 Juni 2011

sekolah

Akankah sekolah kita seperti kuburan?
IVAN Illich dalam Descholling Society (1970) meramalkan bahwa sekolah di Amerika akan seperti kuburan (sepi). Hal ini terjadi ketika pengetahuan dan tingkat kedewasaan masyarakat sudah berkembang dengan wajar sehinggga institusional pendidikan formal tidak lagi dibutuhkan. Masyarakat akan mampu menjalankan fungsi pendidikan lewat elemen sosial dan budaya yang luas, tanpa terikat dengan otoritas kelembagaan seperti sekolah. Dengan kata lain, masyarakat memandang sekolah tidak lagi dibutuhkan. Demikian pula ketika teknologi informatika semakin terjangkau, ini juga memungkinkan peran guru dan sekolah berkurang.
Berbeda dengan pernyataan Poulo Freire dalam ”Pedagogy of the City” pada dasawarsa 1990, sekolah di Brazil menjadi sepi sebab penduduk yang sedang sekolah didera putus di tengah jalan karena tidak kuat lagi menanggung biaya pendidikan yang jumlahnya semakin melangit.
Di samping itu, kenapa sekolah menjadi sepi karena banyak sekolah yang seharusnya layak, merosot kualitasnya, banyak bangunan sekolah rusak parah, atap gedung banyak yang hancur dan lantai-lantai sekolah berlubang.
Dan tampaknya ciri/ciri atau gejala persoalan pendidikan yang sepi juga mulai (atau memang sudah) terjadi di Indonesia. Hal ini penulis dasarkan pada beberapa kebijakan pemerintah dan gejala pendidikan lain yang muncul di masyarakat, yakni: 1) pelaksanaan Ujian Nasional; 2) globalisasi pendidikan; 3) program homescholling.
Pelaksanakan Ujian Nasional Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sebenarnya melanggar UU Sisdiknas pasal 58 yang mengamanatkan evaluasi belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Adapun tugas dan fungsi pemerintah pada pasal 59 ayat 1 adalah melakukann evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
Melenceng dari amanat UU tersebut di atas, pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo tetap ngotot menyelenggarakannya dengan dalih UN justru untuk meningkatkan semangat belajar siswa dan guru (Kompas, 8 Mei 2007).
Di samping itu, keberadaan UN justru menurunkan derajat kepercayaan terhadap sekolah sebagai lembaga pendidikan. Ketidakpercayaan lembaga sekolah terhadap kemampuan guru yang ujung-ujungnya mendatangkan seorang tentor lembaga bimbingan belajar.
Sekolah sekarang sudah berubah layaknya lembaga kursus/ bimbingan belajar yang hanya mengajarkan cara menjawab soal dengan benar, bukan lagi sebagai sekolah yang selayaknya mendidik anak didiknya untuk menjadi manusia yang lebih humanis.
Juga banyaknya para anak didik yang melakukan bimbingan belajar di rumah merupakan awal ketidakpercayaan terhadap lembaga sekolah. Lembaga sekolah hanyalah pencetak ijazah yang tidak mampu mendidik anak didik secara total.
Banyaknya anak didik yang tidak lulus juga mengakibatkan mereka tidak mau lagi mengulang UN tahun depan di sekolah, tetapi mereka lebih banyak memilih UN di program Kejar Paket B dan C.
Banyaknya masyarakat kita yang mengikuti progam kesetaraan ini juga merupakan dampak ketidakpercayaan terhadap sekolah yang terlihat angker, mahal, dan tidak menjanjikan dengan dasar ijazah mereka sama dengan sekolah formal. Ketika hal tersebut di atas terjadi, saat itulah sekolah kita akan nampak seperti kuburan, sepi dan senyap.
Globalisasi pendidikan
Globalisasi menurut Beck adalah proses dengan dampak penyerahan kedaulatan national state (negara nasional) kepada perusahan transnasional (global player).
Sekarang konsep national-state benar-benar punah, baik sebagai realita maupun sebagai gagasan ideal. Pendidikan kita sudah latah dengan bermunculnya sekolah standar nasional dan sekolah berbasis international. Sebenarnya kalau dilihat konsep ini akan menggilas sekolah yang tidak berstandar, sekolah akan mati dan gulung tikar.
Di samping itu globalisasi pendidikan telah memunculkan sekolah-sekolah asing berkualitas internasional yang mahal dan tidak terjangkau. Ini akan mengakibatkan sekolah-sekolah lokal yang tidak mampu bersaing juga akan gulung tikar.
Sekolah akan menjadi komoditas komersial dan ladang bisnis pemodal besar sehingga muncul istilah sekolah hanya milik orang-orang yang bermodal. Ketidakpercayaan atas sekolah akan semakin berkurang dan bisa saja sekolah kita menjadi sepi, karena lebih percaya dengan kemampuan sekolah asing yang mahal.
Ketidakmampuan sekolah kita bersaing dengan sekolah asing masih ditambah dengan terpuruknya kualitas sekolah, banyak gedung yang mulai tidak layak dianggap sebagai sekolah, sementara kualitas dan kuantitas pendidik pun masih perlu dipertanyakan.
Program ’homescholling’
Gejala sepinya sekolah juga ditandai dengan program homescholling yang semakin marak di beberapa kota di Indonesia. Sejarah homescholling sendiri bermula dari ketidakpuasan masyarakat terhadap sekolah formal yang semakin tidak aman bagi anakanak mereka, terutama pada semakin banyaknya kasus kekerasan anak di sekolah/lembaga pendidikan.
Jika pada 2006 pusat data dan Informasi Komisi Nasional Pelindungan anak hanya menerima laporan 192 kasus kekerasan di sekolah, pada kuartal pertama (januari- April) 2007 telah dilaporkan 226 kasus kekerasan yang terjadi disekolah (Suara Merdeka 4/05/07).
Di samping kurang amannya sekolah sebagai alasan orang tua untuk memilih homescholling adalah pertama, masalah religius; kedua, gaya belajar yang tidak sesuai dengan sistem pengajaran di sekolah; ketiga, alasan otoritas yaitu anak tidak lagi memandang orang tua sebagai satusatunya otoritas yang harus ia taati (Loy Kho, 2005).
Homescholling merupakan sekolah alternatif yang sudah dilegalkan di Amerika dan mulai ditiru di Indonesia. Kalau di Amerika homescholling pengajar dan yang memberikan evalusi di tekankan oleh orang tuanya sendiri.
Di Indonesia mulai dikembangkan salah satunya adalah Sekolah Qoryah Thayyibah, sekolah yang berbasis komunitas yang menggunakan rumah dan sekitarnya sebagai tempat belajar.Di samping itu juga mulai marak homescholling oleh para artis dan selebritis. Banyaknya selebritis yang masih pada usia sekolah dan tidak sempat mengenyam pendidikan di sekolah formal juga mulai beralih ke program ini.
Namun, jika memang homescholling di Indonesia akan dilegalkan apakah sama seperti di Amerika. Atau justru homescholling akan menjadikan orang-orang kaya membeli para guru privat untuk mengajar anak-anaknya di rumah, sehingga Homescholling akan membelok dari tujuan awalnya.Jika memang ini terjadi, mungkinkah bisa dianggap masyarakat masih percaya dengan sekolah formal?
Tampaknya, melihat dari karakter orang Indonesia yang suka latah dan kurang mau rekoso (repot), gejalagejala di atas akan menjadi kenyataan bahwa suatu saat kelak sekolah tidak ada lagi penghuninya. Sekolah akan sepi seperti kuburan. Namun, kita tetap berharap pemerintah mau melepaskan sedikit egonya demi keselamatan pendidikan dan masa depan generasi muda kita. Wallahu a’lam n hf

3 komentar:

  1. paradigma pendidikan di negara kita hanya berpacu pada peningkatan kuantitas nilai saja tanpa melihat kualitas nya bagaimana...sebagai contoh..kita sekolah kan cuma ngareppin nilai doang kan bukan nyari ilmu kita sampai dimana teruji kualitasnya...

    BalasHapus